toko online

Toko Online Merebak, Pengangguran Memadat?

“Sekarang pembelinya sepi, sehari belum tentu ada yang laku. Beda kalau dulu, sehari bisa 10 barang yang terjual,” tutur Jacky S, seorang karyawan tokok, dengan mata nanar sambil memandang deretan toko di kawasan Glodok yang tertutup rapat saat ditanya oleh seorang wartawan.

“Sekarang Glodok sudah tak seramai dulu, penjualannya lesu sejak tahun 2000-an. Tahun ini juga lebih sepi lagi, setiap tahun semakin sepi saja,” kata Aswan, Asisten Manager Pasar Glodok PD Pasar Jaya, Aswan, seperti yang dilansir dari detikfinance.

toko online

Kejayaan Glodok, Tamansari, Jakarta Barat (Jakbar) yang terkenal sebagai pusat perdagangan elektronik, kini mulai memudar. Menurut beberapa sumber, makin masifnya penjualan secara daring membuat  tempat tersebut ditinggal pembeli dan seperti mati suri.

Serbuan Internet

Ada sebab, tentulah ada akibat. Perkembangan internet yang memungkinkan orang untuk mengakses semua hal melalui gawainya membuat perubahan pola konsumsi masyarakat. Masyarakat mulai meninggalkan pola belanja konvensional, yaitu dengan datang secara langsung ke pasar, melihat barang, menawar, dan mengadakan transaksi. Atas nama efisiensi, mereka kini lebih memilih untuk “window shopping” dengan meng-klik “mal maya” yang tersedia di gawai berkat aplikasi yang makin apik.

Amie, 35 tahun, seorang ibu rumah tangga, mengatakan, “Berbelanja melalui toko online lebih praktis. Kita tidak perlu lagi harus mengeluarkan ongkos untuk pergi ke pusat perbelanjaan. Selain itu, saat ini toko online juga sudah dilengkapi dengan sistem pengiriman yang cepat dan murah.”

Gayung bersambut, pola belanja masyarakat ini memunculkan pasar daring. Hal itu menjadi sebuah peluang bagi seorang William Tanuwijaya, CEO Tokopedia. Sejak 2009, Tokopedia hadir sebagai sebuah aplikasi jual beli yang menghubungkan antara penjual dengan pembeli dalam satu aplikasi online yang user friendly, mudah diakses, dan terpercaya.

Pada Agustus 2016, tercatat Tokopedia berhasil memfasilitasi 16 juta transaksi. “Setiap bulannya, lebih dari 16,5 juta produk terkirim ke pembeli di seluruh Indonesia dengan nominal transaksi mencapai triliunan rupiah,” terang William.

Reaksi Berantai

Fakta tersebut tentu merupakan satu hal yang tak bisa dipungkiri oleh para pemain transaksi tradisional. Nilai nominal perdagangan tak lagi didominasi oleh perpindahan uang kartal secara langsung, tapi mulai beralih ke “angka-angka” yang tertera di dalam saldo aplikasi toko online kita.

Salah satu hal yang menjadi dampaknya tentu adalah penurunan kebutuhan perusahaan akan tenaga kerja. Dengan kata lain, pengangguran akan bertambah. Mudah dimengerti, bukan? Dahulu, pusat perbelanjaan membutuhkan banyak tenaga kerja, mulai dari SPG, karyawan, hingga tenaga keamanan. Kini, sejak munculnya toko online, tenaga kerja tersebut tentu makin tersingkirkan.

Pemerintah pun mengakui hal ini. Dilansir dari viva.co.id, Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukita, mengatakan, “Perubahan sektor perdagangan dari offline ke online, memang sebuah fenomena yang tak bisa untuk dihindari. Meskipun, pergeseran ini memiliki dampak negatif yang harus dihadapi.” Enggar mengakui, tumbuhnya belanja online bisa meningkatkan pengangguran di Indonesia. Sehingga, pada akhirnya dapat memengaruhi ratio gini dan tingkat kemiskinan.

Terus, Lo Mau Apa?

Fakta sudah menunjukkan bahwa pengangguran tak lagi disebabkan karena perbandingan tak imbang antara jumlah tenaga kerja dengan lapangan kerja, tapi mulai merasuk pada komponen perbandingan sistem tenaga kerja konvensional dengan tenaga kerja modern. Tak bisa dipungkiri, zaman tak lagi mendukung sistem “padat karya”. Tenaga kerja terhimpit oleh teknologi yang menggantikan mereka.

Pertanyaan yang muncul adalah apa yang harus kita perbuat? Menyerah, menganggur, dan akhirnya jatuh dalam kemiskinan? Atau mengikuti perkembangan zaman dan melihat peluang di dalamnya? Pilihan kedua adalah yang paling ideal.

Salah satu langkah yang bisa dilakukan adalah belajar menjadi pengusaha. Arti “pengusaha” tak lain adalah orang yang secara mandiri menciptakan produk dan menjualnya. Perkembangan teknologi daring tidak mematikan peluang seseorang untuk menghasilkan produk, justru mendukung sistem marketingnya.

Jika kita mempunyai produk yang mempunyai nilai jual, promosikan produk tersebut melalui media sosial yang sangat berkembang. Produk tersebut meliputi produk konsumsi, jasa, atau kreativitas.

“Selain melihat internet sebagai celah, saya juga riset bahwa masyarakat Indonesia itu banyak yang butuh kerja sampingan. Saya langsung kepikiran ingin membuat perusahaan semacam eBay,” cerita William Tanuwijaya. Bagi kita, aplikasi-aplikasi marketing tersebut bisa menjadi “celah” dan sarana untuk mendayagunakan kualitas diri dan produk kita. Sekarang, pilihan ada di tangan Anda.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *